Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Rizky

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Rizky. Ia bukan anak orang kaya dan bukan orang terkenal. Namun sejak kecil ia memiliki satu impian besar, menjadi penghafal Al-Qur’an. Setiap pagi sebelum subuh, Rizky berjalan menuju masjid membawa mushaf lusuh di tangannya. Saat teman-temannya masih tertidur, ia duduk sendiri mengulang hafalan ayat demi ayat. Kadang hafalannya lancar, kadang ia lupa lalu mengulanginya berkali-kali sampai merasa lelah. Banyak orang mengira menjadi penghafal Al-Qur’an selalu mudah dan menenangkan. Padahal Rizky sering melawan rasa malas dan keinginan untuk menyerah. Ada hari ketika hafalannya hilang begitu saja meski sudah diulang berkali-kali. Suatu malam ia berkata lirih, “Ya Allah, aku takut tidak mampu menjaga kalam-Mu.” Ayahnya tersenyum lalu berkata, “Bukan kamu yang menjaga Al-Qur’an. Allah yang menjaga hatimu agar tetap dekat dengan Al-Qur’an.” Sejak saat itu Rizky terus berusaha istiqamah walau perlahan. Satu ayat demi satu ayat. Satu halaman demi satu halaman. Tahun demi tahun berlalu hingga akhirnya ia menyelesaikan hafalan 30 juz. Bukan pujian manusia yang membuatnya menangis, tetapi karena ia sadar betapa besar pertolongan Allah dalam setiap perjuangannya. Ia akhirnya memahami bahwa penghafal Al-Qur’an bukan mereka yang tidak pernah lelah, tetapi mereka yang tetap kembali menghafal meski berkali-kali jatuh. Karena Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal oleh lisan, tetapi untuk hidup di dalam hati.
0:00 / 0:00
Share
← Return to Studio